Latest Post

SEJARAH DAN TRADISI KALIYETNO

Written By Unknown on Senin, 30 September 2013 | 22.07

SEJARAH DAN TRADISI KALIYETNO (TERNADI)

Pada zaman dulu ada seorang berandal atau perampok yang bernama Loka jaya,  pada suatu hari ia bertemu dengan Sunan Bonang dan ia berkeinginan untuk merampok beliau tapi loka jaya tidak bisa merampoknya kemudian beliau menunjuk ke pohon jati dengan jari telunjuknya lalu jadilah pohon tersebut menjadi emas, dari kejadian itu Loka Jaya diberi nasehat oleh Sunan Bonang lalu Loka jaya menyerah dan dia ingin menjadi murid Sunan Bonang, kemudain Sunan Bonang menyuruh Loka jaya untuk bertapa sambil menjaga tongkat, yang menurut cerita masyarakat sekitar kejadian itu terjadi di daerah Tuban dan ia disuruh Sunan Bonang untuk bertapa diaerah itu selama satu tahun, bsetelah satu tahun berlalu kemudian loko joyo diDatangi oleh sunan bonang dan disuruh untuk  melanjutkan perjalananya lalu berjalanlah menuju daerah ternadi dan disitulah ia disuruh untuk menjaga tongkat sunan bonang lagi selama 3 tahun ia bertapa didaerah tersebut,setelah itu ia disuruh melanjutkan perjalanannya ke demak sesampainya disana Loko Joyo di angkat oleh Sunan Bonang dan di Beri nama serta dilantik menjadi Sunan Kalijaga.
Peninggalan dari pertapaan loko joyo di daerah ternadi
Peninggalan pertapaan Loka jaya yang ada di daerah ternadi dinamakan Kaliyetno menurut Bpk.Sukat Mansur (juru kunci petilasan sunan kalijaga) kali berarti=sungai,  yetno=mayite kono (red.jawa) maksudnya adalah disini adalah tempat peninggalan pertapaan sunan kalijaga dan ada sebuah makam yang merupakan petilasan Sunan Kali Jaga artinya bukan makam sebenarnya, jasad Sunan Kalijaga yang sebenarnya ada didemak tapi disini hanyalah sebuah makam saja, dibelakang makam ada beberapa pohon bambu yang menurut juru kunci adalah tongkat Sunan Bonang yang dulu di jaga oleh Loka Jaya pada masa pertapaannya  yang berubah menjadi pohon bambu,bambu itu dulunya adalah Bambu Kuning dan Sekarang Berubah Menjadi Bambu Apus, mengapa demikian??karena menurut Kepercayaan orang disini bahwa perubahan tersebut adalah pertanda Negara kita sekarang ini sedang mengalami kekacauan yang universal.
Tradisi serta budaya yang berlaku dimasyarakat sekitar
Pada Hari Kamis Kliwon malam Jum’at legi Banyak warga sekitar ternadi maupun dari daerah luar ternadi yang berziarah ke makam Sunan Kaliyetno dan Pada tanggal 10 bulan Besar/dzulhijjah warga sekitar memperingati khoul atau pengajian di makam Sunan Kaliyetno.
Setelah pengajian selesai kemudian dilanjutkan dengan “Buka luwur” atau penggantian Kain yang ada dipetilasan Sunan Kaliyetno, setelah kain tersebut diganti pengurus makam sunan kaliyetno kemudian memotong Bambu yang ada di belakang makam lalu di Potong menjadi 4 potong dan diletakan di atas pusara petilasan setelah itu pengurus akan membagikan sebungkus nasi barokah kepada para pengunjung.Kain dari bekas tutup (klambu) Petilasan itu biasanya dipotong-potong dan diminta oleh sebagian masyarakat yang mana  menurut orang jawa dipercaya sebagai jimat/sarana untuk keselamatan diri.
Tradisi atau budaya didaerah ini tidak terlalu banyak Karena disini hanyalah tempat singgah Sunan Kalijaga, akan tetapi Tradisi atau budaya yang masih dilakukan hingga sekarang adalah seperti yang dijelaskan diatas.

sejarah desain grafis

Sejarah awal

Di era sekarang ini design grafis sudah sangat popular dan bahkan hampir setiapkegiatan kita berhubungan dengan design grafis. Banyak tercipta para designer-designer grafis muda yang professional, karena pada dasarnya kunci utama design grafis adalah mempunyai banyak ide. Tapi tahukah anda sejarah awal mula design grafis? Dan tentunya kita perlu mempelajari perkembangan dan sejarah design grafis. Untuk itu pada kesempatan kali ini, awalmula.com akan mengutip sedikit perjalanan atau perkembangan dan sejarah design grafis dari tahun ke tahun hingga sampai saat ini, untuk menambah wawasan kita terutama dalam dunia design grafis.Seperti yang kita ketahui, kunci utama dalam design grafis adalah mempunyai banyak ide dan mampu menguasai beberapa software-software design grafis seperti desktop publishing, webdesign, audiovisual dan rendering 3 Dimensi.

Pelacakan perjalanan sejarah desain grafis dapat ditelusuri dari jejak peninggalan manusia dalam bentuk lambang-lambang grafis (sign & simbol) yang berwujud gambar (pictograf) atau tulisan (ideograf). Gambar mendahului tulisan karena gambar dianggap lebih bersifat langsung dan ekspresif, dengan dasar acuan alam (flora, fauna,landscape dan lain-lain). Tulisan/ aksara merupakan hasil konversi gambar, bentuk dan tata aturan komunikasinya lebih kompleks dibandingkan gambar. Belum ada yang tahu pasti sejak kapan manusia memulai menggunakan gambar sebagai media komunikasi. Manusia primitif sudah menggunakan coretan gambar di dinding gua untuk kegiatan berburu binatang. Contohnya seperti yang ditemukan di dinding gua Lascaux, Perancis.

Lambang/ aksara sebagai alat komunikasi diawali oleh bangsa Punesia (+ 1000 tahun SM), yang saat itu menggunakan bentuk 22 huruf. Kemudian disempurnakan oleh bangsa Yunani (+ 400 tahun SM) antara lain dengan mengubah 5 huruf menjadi huruf hidup. Kejayaan kerajaan Romawi di abad pertama yang berhasil menaklukkan Yunani, membawa peradaban baru dalam sejarah Barat dengan diadaptasikannya kesusasteraan, kesenian, agama, serta alfabet Latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya bangsa Romawi menetapkan alfabet dari Yunani tersebut menjadi 21 huruf : A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan dalam alfabet Latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan J, U dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlah keseluruhan alfabet Latin menjadi 26.

Ketika perguruan tinggi pertama kali berdiri di Eropa pada awal milenium kedua, buku menjadi sebuah tuntutan kebutuhan yang sangat tinggi. Teknologi cetak belum ditemukan pada masa itu, sehingga sebuah buku harus disalin dengan tangan. Konon untuk penyalinan sebuah buku dapat memakan waktu berbulan-bulan. Guna memenuhi tuntutan kebutuhan penyalinan berbagai buku yang semakin meningkat serta untuk mempercepat kerja para penyalin (scribes), maka lahirlah huruf Blackletter Script, berupa huruf kecil yang dibuat dengan bentuk tipis-tebal dan ramping. Efisiensi dapat terpenuhi lewat bentuk huruf ini karena ketipis-tebalannya dapat mempercepat kerja penulisan. Disamping itu, dengan keuntungan bentuk yang indah dan ramping, huruf-huruf tersebut dapat dituliskan dalam jumlah yang lebih banyak diatas satu halaman buku.

Black Letter Script dan

A.2 Era Cetak

Desain grafis berkembang pesat seiring dengan perkembangan sejarah peradaban manusia saat ditemukan tulisan dan mesin cetak. Pada tahun 1447, Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman, untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa.
Tahun 1450 Guterberg bekerjasama dengan pedagang dan pemodal Johannes Fust, dibantu oleh Peter Schoffer ia mencetak “Latin Bible” atau disebut “Guterberg Bible”, “Mararin Bible” atau “42 line Bible” yang diselesaikanya pada tahun 1456. Temuan Gutenberg tersebut telah mendukung perkembangan seni ilustrasi di Jerman terutama untuk hiasan buku. Pada masa itu juga berkembang corak huruf (tipografi). Ilustrasi pada masa itu cenderung realis dan tidak banyak icon. Seniman besarnya antara lain Lucas Cranach dengan karyanya “Where of Babilon”.

Johannes Gutenberg (1398-1468)

Pada perkembangan berikutnya, Aloys Senefelder (1771-1834) menemukan teknik cetak Lithografi. Berbeda dengan mesin cetak Guterberg yang memanfaatkan tehnik cetak tinggi, teknik cetak lithografi menggunakan tehnik cetak datar yang memanfaatkan prinsip saling tolak antara air dengan minyak. Nama lithografi tersebut dari master cetak yang menggunakan media batu litho. Tehnik ini memungkinkan untuk melakukan penggambaran secara lebih leluasa dalam bentuk blok-blok serta ukuran besar, juga memungkinkan dilakukannya pemisahan warna. Sehingga masa ini mendukung pesatnya perkembangan seni poster. Masa keemasan ini disebu-sebut sebagai “The Golden Age of The Poster”.
Tokoh-tokoh seni poster tehnik lithogafi (1836-1893) antara lain Jules Cheret dengan karya besarnya “Eldorado: Penari Riang” (1898), “La Loie Fuller: Penari Fuller” (1897), “Quinquina Dubonnet” (1896), “Enu des Sirenes” (1899). Tokoh-tokoh lainya antara lain Henri de Toulouse Lautrec dan Eugene Grasset.
A.3 Perkembangan Lebih Lanjut

Berikut ini merupakan peristiwa-peristiwa penting di dunia yang berperan dalam sejarah perkembangan desain grafis.

1851, The Great Exhibition

Diselenggarakan di taman Hyde London antara bulan Mei hingga Oktober 1851, pada saat Revolusi industri. Pameran besar ini menonjolkan budaya dan industri serta merayakan teknologi industri dan disain. Pameran digelar dalam bangunan berupa struktur besi-tuang dan kaca, sering disebut juga dengan Istana Kristal yang dirancang oleh Joseph Paxton.

Ilustrasi Crystal Palace

Buku optik dari Great Exhibition

1892, Aristide Bruant, Toulouse-Lautrec

Pelukis post-Impressionist dan ilustrator art nouveau Prancis, Henri Toulouse-Lautrec melukiskan banyak sisi Paris pada abad ke sembilan belas dalam poster dan lukisan yang menyatakan sebuah simpati terhadap ras manusia. Walaupun lithography ditemukan di Austria oleh Alois Senefelder pada tahun 1796, Toulouse-Lautrec membantu tercapainya peleburan industri dan seni.

Poster Aristide Bruant

1910, Modernisme

Modernisme terbentuk oleh urbanisasi dan industrialisasi dari masyarakat Barat. Sebuah dogma yang menjadi nafas desain modern adalah “Form follow Function” yang di lontarkan oleh Louis Sullivan.Symbol terkuat dari kejayan modernisme adalah mesin yang juga diartikan sebagai masa depan bagi para pengikutnya. Desain tanpa dekorasi lebih cocok dengan “bahasa mesin”, sehingga karya-karya tradisi yang bersifat ornamental dan dekoratif dianggap tidak sesuai dengan “estetika mesin”.

1916, Dadaisme

Suatu pergerakan seni dan kesusasteraan (1916-1923) yang dikembangkan mengikuti masa Perang Dunia Pertama dan mencari untuk menemukan suatu kenyataan asli hingga penghapusan kultur tradisional dan bentuk estetik. Dadaisme membawa gagasan baru, arah dan bahan, tetapi dengan sedikit keseragaman. Prinsipnya adalah ketidakrasionalan yang disengaja, sifat yang sinis dan anarki, dan penolakan terhadap hukum keindahan.

1916, De Stijl

Gaya yang berasal dari Belanda, De Stijl adalah suatu seni dan pergerakan disain yang dikembangkan sebuah majalah dari nama yang sama ditemukan oleh Theo Van Doesburg. De Stijl menggunakan bentuk segi-empat kuat, menggunakan warna-warna dasar dan menggunakan komposisi asimetris. Gambar dibawah adalah Red and Blue Chair yang dirancang oleh Gerrit Rietveld.

The Red and Blue Chair

1918, Constructivism

Suatu pergerakan seni modern yang dimulai di Moscow pada tahun 1920, yang ditandai oleh penggunaan metoda industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan moderen melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris.

Model dari Menara Tatlin, suatu monumen untuk Komunis Internasional.

1919, Bauhaus

Bauhaus dibuka pada tahun 1919 di bawah arahan arsitek terkenal Walter Gropius. Sampai akhirnya harus ditutup pada tahun 1933, Bauhaus memulai suatu pendekatan segar untuk mendisain mengikuti Perang Duni Pertama, dengan suatu gaya yang dipusatkan pada fungsi bukannya hiasan.

Gedung Bauhaus

1928-1930, Gill Sans

Tipograper Eric Gill belajar pada Edward Johnston dan memperhalus tipe huruf Underground ke dalam Gill Sans. Gill Sans adalah sebuah jenis huruf sans serif dengan proporsi klasik dan karakteristik geometris lemah gemulai yang memberinya suatu kemampuan beraneka ragam (great versatility).

Foto Eric Gill

1931, Harry Beck

Perancang grafis Harry Back ( 1903-1974) menciptakan peta bawah tanah London (London Underground Map) pada tahun 1931. Sebuah pekerjaan abstrak yang mengandung sedikit hubungan ke skala fisik. Beck memusatkan pada kebutuhan pengguna dari bagaimana cara sampai dari satu stasiun ke stasiun yang lain dan di mana harus berganti kereta.

Harry Beck dan Peta bawah tanahnya

1950s, International Style

International atau Swiss style didasarkan pada prinsip revolusioner tahun 1920an seperti De Stijl, Bauhaus dan Neue Typography, dan itu menjadi resmi pada tahun 1950an. Grid, prinsip matematika, sedikit dekorasi dan jenis huruf sans serif menjadi aturan sebagaimana tipografi ditingkatkan untuk lebih menunjukkan fungsi universal daripada ungkapan pribadi.

Sampul buku dari Taschen

1951, Helvetica

Diciptakan oleh Max Miedinger seorang perancang dari Swiss, Helvetica adalah salah satu tipe huruf yang paling populer dan terkenal di dunia. Berpenampilan bersih, tanpa garis-garis tak masuk akal berdasarkan pada huruf Akzidenz-Grotesk. Pada awalnya disebut Hass Grostesk, nama tersebut diubah menjadi Helvetica pada tahun 1960. Helvetica keluarga mempunyai 34 model ketebalan dan Neue Helvetica mempunyai 51 model.

Sampul buku Helvetica

1960s, Psychedelia and Pop Art

Kultur yang populer pada tahun 1960an seperti musik, seni, disain dan literatur menjadi lebih mudah diakses dan merefleksikan kehidupan sehari-hari. Dengan sengaja dan jelas, Pop Art berkembang sebagai sebuah reaksi perlawanan terhadap seni abstrak. Gambar dibawah adalah sebuah poster karya Milton Glaser yang menonjolkan gaya siluet Marcel Duchamp dikombinasikan dengan kaligrafi melingkar. Di cetak lebih dari 6 juta eksemplar.

Poster karya Milton Glaser

1984, Émigré

Majalah disain grafis Amerika, Émigré adalah publikasi pertama untuk menggunakan komputer Macintosh, dan mempengaruhi perancang grafis untuk beralih ke desktop publishing ( DTP). Majalah ini juga bertindak sebagai suatu forum untuk eksperimen tipografi.

Sampul Majalah Émigré

Sejarah Desain Grafis Indonesia: 1970-sekarang

Suatu hari pada pertengahan 1975, seusai acara wisuda di aula STSRI “ASRI” di jalan Gampingan, Yogyakarta, saya berada dalam perjalanan ke rumah makan Ayam Goreng Kalasan “Suharti” membonceng sepeda motor Honda yang dikemudikan oleh Fadjar Sidik (1930-2004), Ketua Jurusan Seni Lukis waktu itu (yang oleh seniman-seniman Yogyakarta dianggap sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia). [1] “Kamu mesti ke Jakarta, Han” katanya, “Kalau sudah menguasai Jakarta, yang lainnya lebih mudah”. Rupanya begitulah citra umum mengenai Jakarta tahun 1970an, diakibatkan oleh politik Orde Baru yang serba sentralistik, yang mengubah wajah Jakarta bagai magnet bagi angkatan kerja, termasuk calon desainer grafis. Di bawah pemerintahan Soeharto, kondisi politik yang dengan berbagai cara diupayakan stabil itu telah berakibat pada derasnya investasi asing yang masuk, menjadi bahan bakar bagi pembangunan infrastruktur di segala sektor, terutama di kota Jakarta.

Terlepas dari sepiring nasi hangat dengan ayam goreng lezat yang kami nikmati sesudahnya, acara wisudanya sendiri berjalan sangat singkat, serba dingin dan kaku, dan menegangkan. Bayangkan, mungkin baru kali itu pernah terjadi dalam sejarah pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia, bahwa sebuah acara wisuda perguruan tinggi (kecuali mungkin di AKABRI) dipimpin oleh seorang petinggi militer, sementara semua pintu masuk ke kampus dijaga ketat oleh tentara, dan hanya yang berkepentingan atau yang tidak termasuk di dalam daftar hitam yang diijinkan masuk.

Peristiwa tersebut di atas saya alami ketika dunia seni rupa Indonesia, terutama di STSRI “ASRI”, dan juga FSRD ITB, baru saja diguncang oleh peristiwa yang disebut Desember Hitam, yang pecah di ujung tahun 1974, adalah sebuah gerakan perlawanan para seniman muda yang diawali dengan protes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi sebagai bercorak ragam sama (seragam) yaitu dekoratif, dan lebih mengabdi kepada kepentingan ‘konsumtif’.

Gerakan Seni Rupa Baru (1975)

Peristiwa Desember Hitam itu adalah cikal bakal terbentuknya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975 yang kelak menghantarkan dunia seni rupa Indonesia ke pemahaman baru mengenai estetika, pengungkapan nilai dan fungsi seni. Bagi GSRB, kesenian tidak harus dikategorikan menurut jenjang, ada kesenian kelas wahid dan ada kesenian kelas kambing. GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun dianggap sederajat. Sepanjang perjalanannya (1975-1979, 1987), eksponen GSRB yang juga desainer grafis tercatat antara lain FX Harsono, Syahrinur Prinka (1947-2004), Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, Gendut Riyanto (1955-2003), Harris Purnama dan Oentarto.

Pameran desain grafis pertama di Indonesia

Spirit untuk tidak lagi mempercayai penjenjangan antara seni murni dan seni terap menghantar tiga desainer grafis mengabarkan eksistensinya melalui sebuah pameran desain grafis di Pusat Kebudayaan Belanda “Erasmus Huis” pada tanggal 16-24 Juni 1980, sebuah riak kecil yang mengusung misi utama memperkenalkan profesi desainer grafis ke publik yang lebih luas. Pameran bertajuk “Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit” ini kelak tercatat sebagai pameran desain grafis pertama di Indonesia yang diadakan oleh desainer grafis Indonesia. [2]

Organisasi desainer grafis pertama di Indonesia

Pameran itu juga menjadi ajang berkumpulnya desainer-desainer grafis masa itu yang sedang menggalang pertemuan-pertemuan intensif di jalan Padalarang 1-A, Jakarta – kantor majalah “Visi” (d/h “Maskulin”) dan “Sport Otak” – untuk mempersiapkan dibentuknya sebuah organisasi yang mewadahi desainer grafis Indonesia. Organisasi ini kemudian diresmikan pada tanggal 24 September 1980 dengan nama IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) bersamaan dengan penyelenggaraan sebuah pameran besar bertajuk “Grafis ‘80” di Wisma Seni Mitra Budaya, Jalan Tanjung 34, Jakarta. Inilah upaya terbesar desainer grafis angkatan ‘70 untuk menyatakan eksistensinya, agar masyarakat apresiatif terhadap bidang ini. “Pameran itu seolah menyadarkan kita, bahwa seni tak hanya yang bisa kita tonton dalam pertunjukan formal saja, tapi juga pada yang melekat dalam kehidupan sehari-hari kita”. [3]

Studio-studio desain grafis pertama di Indonesia

Sepanjang tahun 1970 dan seterusnya mulai bertumbuh perusahaan-perusahaan desain grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis. Berbeda dengan biro iklan, perusahaan-perusahaan ini mengkhususkan diri pada desain non-iklan, semuanya berada di Jakarta: Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, S Prinka), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi, Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution). Dan pada dekade berikutnya, di Jakarta muncul antara lain Gugus Grafis (FX Harsono, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan, Djodjo Gozali), Headline (Sita Subijakto), BD+A (Irvan Noe’man), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (Markoes Djajadiningrat), Studio “OK!” (Indarsjah Tirtawidjaja) dan lain-lain.

Setiap studio membawa serta kekhasannya masing-masing sebagai akibat dari ‘ideologi’ desainernya. Misi keIndonesiaan menuntun cara kerja Citra Indonesia dalam mengolah karya-karya desainnya. Di dalam Citra Indonesia ada seorang tokoh budaya, SJH Damais, yang menjadi ‘kamus berjalan’ bagi pendekatan-pendekatan yang ingin diterapkan. Sementara Gugus Grafis berupaya setia dengan ideologi GSRB-nya walau tidak seluruh nilai dan praksis seni rupa kontemporer bisa diterapkan pada semua kesempatan yang didapat. Pada tahun 1973 ada Decenta (Design Centre Association) di Bandung, yang terlibat AD Pirous, G Sidharta, Adrian Palar, Sunaryo, T Sutanto, Priyanto Sunarto. Saat itu ada pertentangan antara pandangan bahwa seni itu universal dengan pandangan seni yang digali dari bumi sendiri. Decenta menjadi tempat menggali khasanah Indonesia yang diterapkan dalam seni (grafis, lukis, patung) dan desain (pameran, elemen estetis, furnitur, curtain, greeting card, sampul buku). Pendekatannya formal atau total, formal melalui olahan artefak budaya, dan total melalui penghayatan terhadap spirit yang hidup dalam masyarakat tradisi. Meski bukan studio desain grafis, Decenta sudah melayani pekerjaan-pekerjaan desain grafis (walau masih sedikit).

Pada masa ini, studio mana pun ‘dituntut’ bisa mengerjakan pekerjaan apa pun, klien datang dengan pekerjaan mulai dari desain logo sampai kepada ilustrasi sampul kaset, desainer bak superman atau superwoman. Studio grafis tidak punya pilihan lain supaya bertahan hidup. Ilustrasi menggunakan teknik air brush, dengan gaya hyper-realism dan Pop Art menjadi trend waktu itu, sejalan dengan perkembangan ilustrasi di dunia maju (majalah “Tempo” dan “Zaman” adalah dua penerbitan yang mengakomodasi teknik ini untuk sampulnya). Air brush gun, pensil, kuas, cutter, Cow Gum, Spraymount dan huruf gosok Letraset/Mecanorma adalah alat-alat yang lazim bertengger di meja kerja desainer waktu itu.

Pertumbuhan usaha di bidang desain grafis serentak dengan perkembangan di bidang pendidikannya. Menyusul STSRI “ASRI” di Yogyakarta dan FSRD ITB di Bandung yang sudah ada terlebih dulu, pada tahun 1976 juga dibuka di LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) dan kemudian di Universitas Trisakti pada tahun 1978.

Pameran IPGI ke-2 digelar pada tanggal 22-31 Agustus 1983 di Galeri Utama TIM, Jakarta dengan tajuk “Grafis ‘83”. Ini adalah untuk pertama kalinya – setelah 15 tahun berdiri – Dewan Kesenian Jakarta dan TIM (Taman Ismail Marzuki) menyelenggarakan sebuah pameran seni terap, yang secara tidak langsung merupakan pengakuan resmi otoritas kesenian atas desain grafis sebagai seni. Sudarmadji, Ketua Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta mengungkap bahwa “Kemasan pasta gigi atau sabun, jika isinya sudah diambil dan digunakan, maka kemasan (pembungkusnya) langsung begitu saja dibuang. Poster atau reklame yang terpampang di jalan, begitu tahu isinya, habis perkara. Jarang yang penghayatannya dilanjutkan dari aspek artistik dan estetisnya.” [4]

Selanjutnya bersama JAGDA (Japan Graphic Designer Association), IPGI pernah menyelenggarakan dua pameran besar, yaitu pada 9-15 Februari 1988 di Galeri Ancol, Pasar Seni Ancol, Jakarta yang dilanjutkan di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung, dan pada tahun 1989 berturut-turut di tiga kota: 23-30 Maret di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud (sekarang Galeri Nasional) di jalan Merdeka Timur 14, Jakarta; 12-20 April di Yayasan Pusat Kebudayaan, jalan Naripan, Bandung dan 26 April-3 Mei di Kampus Institut Seni Indonesia (d/h STSRI “ASRI”) di jalan Gampingan, Yogya.

Selama perjalanannya, desainer yang aktif menggerakkan roda IPGI: Gauri Nasution, Hanny Kardinata (Bendahara), Karnadi Mardio (Wakil Ketua), Priyanto Sunarto, Sadjiroen, Syahrinur Prinka, Tjahjono Abdi, Wagiono Sunarto (Ketua), Yongky Safanayong.

Upaya menyejajarkan desain dengan cabang kesenirupaan yang lain, juga menjadi landasan kurasi “Jakarta Art & Design Expo ‘92” atau “JADEX‘92” yang digelar di Jakarta Design Center tanggal 25-30 September 1992. Untuk pertama kalinya semua cabang seni rupa – seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, seni keramik, instalasi, desain interior, desain grafis, desain produk, desain tekstil, desain busana, desain aksesori, kria kayu, kria keramik dan kria bambu – ‘dipersatukan’ dalam sebuah pameran besar. “Sejauh ini, pengkajian kemungkinan persentuhan itu – khususnya melalui sebuah pameran – belum dilakukan. Pameran-pameran yang diselenggarakan umumnya berkaitan dengan keutamaan masing-masing cabang seni rupa yang lalu lebih menunjukkan perbedaan. Pameran desain, mengutamakan aspek fungsi dan kaitannya dengan berbagai bidang usaha. Pameran lukisan, patung atau grafis, bila tak menekankan tujuan menjual, terlalu sibuk dengan apresiasi”. [5]

IPGI ganti nama jadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia)

Pada tanggal 7 Mei 1994 IPGI menyelenggarakan kongres pertamanya di Jakarta Design Center dimana berlangsung penggantian nama organisasi menjadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia). Pada saat itu dilakukan juga serah terima jabatan dari pengurus IPGI ke pengurus ADGI (Ketua: Iwan Ramelan, Sekretaris: Irvan Noe’man), pemilihan President Elect (Gauri Nasution), pengesahan AD/ART dan kode etik serta pengesahan Majelis Desain Grafis. [6]

Seirama dengan pembangunan yang sedang berjalan dengan pesat pada periode 90an, profesi desainer grafis pun semakin dikenal, demand masyarakat juga meningkat, dan didorong oleh faktor teknologi yang semakin canggih dan memudahkan (komputerisasi terjadi di masa ini), terjadilah pertumbuhan jumlah perusahaan desain grafis, di antaranya di Jakarta: LeBoYe (Hermawan Tanzil), MakkiMakki (Sakti Makki), Afterhours (Lans Brahmantyo), Avigra (Ardian Elkana), di Yogyakarta: Petakumpet (M Arief Budiman) dan di Bali: Matamera (Arief “Ayip” Budiman). Jenis pekerjaan hampir spesifik: brand/corporate identity, annual report, company profile, marketing brochure, packaging, calendar.

22 Januari 1998: Kurs rupiah menembus 17.000,- per dolar AS.

Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hebat. Krisis dengan cepat merambah ke semua sektor. Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut. Perusahaan-perusahaan desain grafis pun tidak luput dari hantaman krisis ini, satu per satu ditutup karena sebagian besar klien mereka berasal dari sektor-sektor yang paling terpukul: perbankan, konstruksi dan manufaktur. Hanya studio kecil dengan dua atau tiga orang staf saja yang bisa bertahan karena overhead-nya kecil, studio besar yang mampu bertahan pun dipaksa memangkas drastis jumlah stafnya.

Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI) berdiri

Di tengah kekosongan organisasi yang mewadahi profesi ini, pada awal tahun 2000 Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI) diwacanakan oleh 3 orang desainer yang juga pengajar desain grafis yaitu Hastjarjo B Wibowo, Mendiola Budi Wiryawan dan Arif PSA. FDGI diresmikan bersamaan dengan penyelenggaraan Pameran Poster “Melihat Indonesia Damai” tanggal 6-14 Juni 2003 di Bentara Budaya, Jakarta. Selanjutnya pada rapat kerja FDGI di Cibubur 11 Juli 2003 dihasilkan perubahan nama organisasi menjadi Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI) dengan tujuan untuk menjangkau pemangku kepentingan di luar desainer grafis. Pada tanggal 7-11 September 2005 FDGI berhasil mengadakan pameran poster internasional “Light of Hope for Indonesia” di arena FGDexpo 2005.

Transformasi ADGI menjadi Adgi (Indonesia Design Professionals Association)

Pada tanggal 8 September 2005 dalam acara “Gathering and Talk Show-It’s Graphic Designers United!” di arena FGDexpo 2005, Jakarta Convention Center yang diselenggarakan oleh FDGI, diterbitkan Memorandum ADGI kepada Gauri Nasution, Danton Sihombing, Hastjarjo B Wibowo dan Mendiola B Wiryawan untuk mempersiapkan Kongres ADGI dalam waktu 6 bulan. Pada bulan Oktober 2005 para penerima mandat membentuk Tim Revitalisasi ADGI sebanyak 16 orang yang bekerja selama 5 bulan untuk merumuskan platform “Adgi Baru”. Berdasarkan evaluasi terhadap kinerja ADGI pada masa lalu dirumuskanlah branding platform Adgi baru yang hadir dengan deskripsi Indonesia Design Professionals Association. Kata Adgi menjadi nama, bukan lagi akronim (ADGI).

Kongres Nasional Adgi pertama

Pada tanggal 19 April 2006 bertempat di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta diselenggarakan Kongres Adgi dimana terpilih formasi presidium yang terdiri dari 5 orang yaitu Andi S Boediman, Danton Sihombing, Hastjarjo B Wibowo, Hermawan Tanzil dan Lans Brahmantyo untuk mengemban tugas memimpin Adgi selama periode 1 tahun dengan mengusung tema “Unifying Spirits”. Pada 16-30 Agustus 2006 presidium ini berhasil menyelenggarakan pameran “Petasan Grafis” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dengan sub-judul “Pameran Nasionalisme Indonesia dalam Desain Komunikasi Visual”.

Kongres Nasional Adgi kedua

Pada tanggal 19 April 2007 dilaksanakan Kongres Nasional Adgi kedua di gedung Galeri Nasional, Jakarta. Melalui mekanisme pemungutan suara, Danton Sihombing terpilih sebagai Ketua Umum Adgi 2007-2010. Kemudian bersamaan dengan diselenggarakannya FGDexpo 2007 pada 8-12 Agustus 2007 Adgi menggelar pameran poster international “One Globe One Flag”di Jakarta Convention Center.

Dari Adgi kembali ke ADGI

Pada tanggal 9 November 2007 Adgi menyelenggarakan “Adgi Jakarta Chapter-Member Recruitment and Gathering Night 2007 di Forbidden Citi, Jl. Wijaya I No. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada peristiwa ini disampaikan antara lain perubahan nama asosiasi dari Adgi-Indonesia Design Professionals Association menjadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), kembali ke nama yang disepakati pada Konggres IPGI ke I di Jakarta Design Center tanggal 7 Mei 1994.

Demikianlah gambaran singkat perjalanan IPGI hingga menjadi ADGI, kemudian dari ADGI menjadi Adgi dan akhirnya kembali menjadi ADGI. Sampai uraian ini selesai ditulis, ADGI telah melaksanakan fungsi nasionalnya lewat pemberdayaan chapters di seluruh Indonesia, yang saat ini terdiri dari Adgi-Jakarta-chapter, Surabaya-chapter, Bali-chapter, Yogyakarta-chapter dan Bandung-chapter (dalam pembentukan).

Ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional di Indonesia

Pada tanggal 4 Juli 2009 diadakan konferensi pers IGDA (Indonesian Graphic Design Award) 2009 di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta yang sekaligus menandai dimulainya ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional ini. IGDA diselenggarakan agar tercipta suatu standar bagi kualitas desain grafis Indonesia, yang setiap tahunnya dinyatakan kepada publik nasional dan internasional sehingga kelak eksistensi desain grafis Indonesia bisa diperhitungkan dalam lingkup global.

Desain grafis Indonesia di jagat industri dunia

Pertumbuhan selalu berawal dari riak kecil, berhimpun menjadi gelombang, dan gelombang lebih besar lagi yang akhirnya membentuk desain grafis Indonesia seperti sekarang ini. Desainer grafis Indonesia kini bisa dengan bangga menyatakan bahwa desain grafis Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hampir semua sektor membutuhkan sentuhan desainer grafis. Pendidikan desain grafis pun berada di puncak pertumbuhan seperti yang belum pernah dialami sebelumnya. Hingga sekarang sekitar 70an pendidikan tinggi DKV telah dan segera berdiri di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Malang, Surabaya, Bali, Makassar dan menyusul di beberapa kota lainnya. [7]

Desain grafis Indonesia kini juga telah memiliki dua media cetak: Concept (2004) dan Versus (2008), serta forum maya DGI (Desain Grafis Indonesia) pada alamat www.desaingrafisindonesia.co.cc (sekarang: DGI-Indonesia.com) yang diluncurkan pada Maret 2007, juga Jurnal Grafisosial (2007) di http://grafisosial.wordpress.com. Situs DGI adalah embrio dari Museum (to be) DGI yang akan dibangun di Chandari, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Stabilitas ekonomi yang terjaga paska krisis, telah menumbuhkan jumlah perusahaan desain grafis di berbagai daerah. Di Jakarta saja untuk menyebut beberapa di antaranya: Inkara Design (Danton Sihombing, Ilma Noe’man), DesignLab (Divina Natalia), Whitespace Design (Irvan N Suryanto), Kineto (Djoko Hartanto), Octovate (Bernhard Subiakto), Banana Inc. (Nico A Pranoto), Jerry Aurum Design (Jerry Aurum), Mendiola Design Associates (Mendiola B Wiryawan), Roundbox (Bima Shaw), Nubrain Design (Ato Hertianto), Fresh Creative (Imelda Dewajani), AhmettSalina (Irwan Ahmett), Crayon Design (Melvi Samodro), Halfnot Indesign (Heri Mulyadi), Thinking*Room (Eric Wijaya), Lumiére (Ismiaji Cahyono), Paprieka (Eka Sofyan), Songo (Hastjarjo B Wibowo, Hagung Sihag, Arif PSA), Neuborn (Vera Tarjono) dan masih banyak lagi.

Tidak sedikit pula desainer-desainer muda Indonesia berkarya dan sukses di luar negeri: Henricus Kusbiantoro (Senior Art Director-Landor Associates, San Francisco), Lucia C Dambies (Head Designer-Wharton Bradley Mack, Newcastle), John Kudos (Principal-Studio Kudos, Chelsea), Melissa Sunjaya (Principal-Bluelounge Design, Pasadena), Kalim Winata (Computer-Generated Images Artist-ImageMovers Digital, San Francisco), Yolanda Santosa (Principal-Ferroconcrete, Los Angeles) dan Bambang Widodo (Principal-BWDesign, New Jersey) adalah beberapa di antaranya.

Uraian pendek ini saya tutup dengan mengutip puisi indah M Arief Budiman ketika meluncurkan ADGI Yogyakarta Chapter pada 19 Juni 2008: “Langkah besar itu telah dimulai dengan satu lilin kecil yang menyala kedip-kedip dalam hembus angin malam. Tapi nyala lilin itu menular, terus menular dan memenuhi kota. Merembet menembus batas-batas dan menerangi gelap sebuah negara. Lalu menyeberang laut dan menerangi dunia kecil kita ini.“ [8]


Read more: http://desxripsi.blogspot.com/2013/01/sejarah-desain-grafis-didunia-dan-di.html#ixzz2gRZc675h

profil lengkap

nama: fatkul huda
ttl:demak,14 april 1996
alamat: demak
sekolah: smk mambaul falah
kelas: XI B
hobby: sepak bola
cita-cita: membahagiakan kedua orang tua

cerpen"Bahkan pelangi Pun Menagis"

Written By Unknown on Rabu, 11 September 2013 | 03.02



Namamu Indah. Seperti orangnya. Indah. Cantik menawan. Kamu adalah siswi satu sekolahku. Dan, aku langsung jatuh cinta padamu. Mungkin orang beranggapan ini adalah cinta monyet, tapi ini bukan. Kalau cina monyet, aku pernah mengalaminya. Dulu, dan aku tidak ingin merasakan itu lagi. Cinta monyetku menyakitkan. Tidak, ini lebih serius dari itu. Aku merasakan hal yang sama, cuma lebih dalam.
Semakin lama, kita semakin dekat. Pulang bareng, bahkan istirahat ke kantin pun bareng. Saat ini adalah waktu yang berharga untukku, seorang remaja laki-laki yang biasa saja, tidak menarik, culun. Semakin aku mengenalmu, semakin aku kagum padamu. Setiap pulang sekolah, kamu pasti memberi sisa uang jajan kamu ke pengemis dekat komplekmu. Bukan hanya itu, bahkan setiap ulangtahun kamu tidak pernah membuat pesta. Kamu lebih memilih berbakti sosial. “Lebih bermanfaat.” katamu. Ya, kamu sesuai dengan namamu. Indah Angelia.
Pulang sekolah. Hujan. Aku melihatmu berdiri di lorong sekolah. Melihat hujan sambil tersenyum. “Kok ngeliat hujan sambil senyum-senyum gitu?” tanyaku. “Aku suka hujan. Kalau ada hujan, pasti sehabis itu pelangi. Tuhan seolah ingin menunjukkan, ada kebahagiaan sesudah masalah. Ada senyum sesudah tangis.” jawabmu. Dan kamu memejamkan mata, membawa saat saat hujan ini masuk ke memori, lalu masuk ke dalam hatimu. Dan tanpa disadari, kamu berlari, hujan-hujanan di tengah lapangan. “Hei, kamu ngapain? Cepat ke sini! Nanti kamu sakit!” teriakku. “Coba kamu ke sini! Ini asik!” kata dia sambil menarik tanganku. Aku kedinginan, tapi dia benar, ini memang asik. Dan jadilah hari itu kami hujan-hujanan, diliatin banyak orang.
Dan besoknya, kita berdua sakit. Hahaha. Tapi tak apalah. Saat hujan-hujanan itu, menjadi saat yang tak terlupakan. Meskipun dingin, tapi asyik. Dan aku merasa tenang. Seolah air menghanyutkan emosi yang ada dalam hati. Apalagi, hujan-hujanannya sama malaikat. Hahaha.
Mulai saat itu, jika hujan turun saat pulang sekolah, kami selalu hujan-hujanan. Orang mungkin menganggap kami aneh, kekanak-kanakkan. Peduli amat! Yang penting, kami berdua senang, meskipun kedua ibu kami marah-marah setiap pulang sekolah.
Hari itu, di sebuah taman. Aku yang sedang berjalan santai, mendapatimu duduk di bawah pohon. Kamu seperti sedang menggambar sesuatu. “Hai, lagi ngapain kamu?” tanyaku. “Ah, aku lagi ngegambar. Udah lama aku gak ngegambar.” jawabmu. “Coba lihat dong.” dan ternyata yang kamu gambar adalah hujan. Segitu addicted nya kamu sama hujan. Hahaha.
Beberapa saat kemudian, awan mendung berkumpul. “Udah mau hujan nih.” kataku. Kamu memperhatikan awan di atas sana. Memperhatikan, lama. Dan, hujan pun turun. Ketika itu, kamu memejamkan mata dan tersenyum. Ya, aku tahu kamu suka hujan. Dan menit berikutnya, aku dan kamu kejar-kejaran. Kayak anak kecil, kata orang. Tak apalah. Yang penting, aku dan kamu bahagia. Hahaha
Hujan masih rintik-rintik. Kita beristirahat di bawah pohon. Kita berdua kedinginan. Wajar karena hujan yang turun deras sekali. “Indah..” “Ya?” “Aku boleh ngomong sesuatu?” kamu penasaran dengan omongan ku barusan. “Boleh. Mau ngomong apa?”. Dan, kata-kata yang telah kulatih semalam suntuk, mendadak macet. Sungguh, tidak mudah untuk mengatakannya. Kamu terus menunggu, memperhatikanku dengan penasaran. Bismillah… Dan kalimat itu akhirnya terucap. Tersamarkan oleh suara gemuruh hujan. Hanya aku, kamu, pohon ini, dan Allah yang mendengar. Kamu kaget, kelihatannya kamu tidak menyangka kalimat itu akan keluar, ditujukan padamu. Dan, kamu mengangguk. Anggukan yang memberi warna baru pada hidupku, hidupmu, dan menambah satu kisah cinta di muka bumi ini.
Tapi hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, menghentikan kegembiraan itu. Kejadian ini, tepat 2 bulan sesudah kejadian di taman itu. Kami lomba lari menuju rumah, sambil hujan-hujanan tentunya. Aku berlari di belakang kelelahan. Dia menoleh ke belakang sambil berkata “Ayo! Masa segitu doang sih? Ah payah kamu hahaha.” teriak dia sambil tertawa. Tertawa untuk yang terakhir kali. Beberapa menit kemudian, tubuhmu tergeletak. Air hujan menyapu darahmu, mengalirkan darah itu entah kemana. Sementara, mobil yang menabrakmu kabur. Pengemudi kaya tapi pengecut itu.
Kenapa? Kenapa secepat ini? Aku berlari mendekatimu. Memeluk tubuhmu yang bersimbah darah. Tangisku terhapus oleh air hujan. Teriakku tertutup suara guntur. Hujan makin deras. Seolah dia menyesal telah turun, seolah dia menyesal. Seolah kalau dia tidak turun, ini tidak akan terjadi.
Hujan pun selesai. Aku masih di situ, memeluk dia. Orang mulai mengerubuni kami. Hujan selesai, namun tidak ada pelangi. Tidak ada kebahagiaan setelah masalah, tidak ada senyum setelah tangis. Mungkin, pelangi sudah pergi. Atau, pelangi sedang menangis. Menangisi kepergian satu insan manusia di muka bumi.


proposal usaha"Kacang Telur Pedas"



A.     Dasar Gagasan Membuka Bisnis Kacang Telur Pedas Manis
  Vegetarian kini tampaknya menjadi kata yang semakin populer di dunia termasuk di IndonesiaDi kota-kota besar dunia, restoran vegetarian sudah menjadi pilihan yang cukup mudah dicari. Di Indonesia pun restoran-restoran vegetarian meski belum banyak, mulai bermunculan di kota-kota besar. Vegetarian juga merupakan salah satu pilihan menu yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan internasional. Aliran vegetarian atau vegetarianisme merupakan suatu aliran dimana penganutnya tidak mengkonsumsi produk-produk hewani dan turunannya, hanya membatasi diri pada produk-produk nabati.
Sebagian orang beralih ke vegetarian karena alasan kesehatan, gaya hidup, tak biasa makan daging, atau latar belakang religi. Menjadi vegetarian tubuh terasa lebih sehat. tidak mudah capek, dan tidak mudah sakit. Karena alasan itulah maka kami ingin mendirikan suatu makanan kecil yaitu “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU” yang belum ada di kalangan vegetarian
Restoran yang menyajikan makanan kecil seperti snack masih jarang, terutama di kalangan vegetarian. Restoran yang khusus makanan kecil juga langka. Tetapi, tidak ada yang spesifik menyajikan menu seperti layaknya “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU” maka dari pada itu disamping itu saya akan membuka restoran “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU”.
B.     TENTANG USAHA
Nama Usaha                    : "KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU"
Alamat Usaha                   : Jl. Piji dawe kudus
Penanggung jawab            : fika





PROPOSAL USAHA
“KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU”
I.         LATAR BELAKANG

Kacang tanah adalah tanaman yang mudah tumbuh disekitar kita, mempunyai protein tinggi dan kaya akan Omaga, untuk itu saya akan menciptakan sebuah makanan yang di gemari masyarakat dalam rangka meningkatkan gizi masyarakat dengan harga murah dan terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah kebawah.
Kacang tanah adalah suata makanan kecil ataupun  camilan yang digemari banyak masyarakat, meskipun kacang tanah sudah mulai tidak ditemui atua dijumpai disekitar kita tapi saya akan mencoba memproduksi dan meningkatkan kualitas produk saya.
Di samping itu banyak pengusaha yang bersaing dalam bisnis makanan. Yang bersaingnya dengan akal sehat, saya akan meningkatkan nilai jual kacang tanah tersebut dengan cara memberikan sentuhan rasa yang lebih moderen dan menarik pembeli.
Kacang tanah juga bisa menyehatkan bagi jantung manusia. Misi saya untuk membuat produk “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU” adalah sebagai camilan masyarakat indonesia yang menyehatkan bagi masyarakat indonesia pada umumnya.
II.      KEUNGGULAN DAN FUNGSI PRODOK
KEUNGGULAN " KACANG TRLUR PEDAS MANIS"
1.      Disukai oleh kalangan masyarakat.
2.      Aman bagi kesehatan.
3.      Harganya terjangkau.
4.      Sebagai camilan dengan keluarga.
5.      Tidak Mengandung zat-zat yang berbahaya.
FUNGSI PRODUK
1.      Sebagai oleh-oleh sanak saudara, kerabat ataupun rekan kerja.
2.      Sebagai camilan dimanapun dengan siapapun.
3.      Siap dinikmat dalam cuaca apapun.
4.      Mudah dibawa kemana-mana.
III.             BAHAN – BAHAN
No.
NAMA BAHAN
SPESIFIKASI
SATUAN
JUMLAH
HARGA
1
Kacang Tanah
-
Kg
2,5 Kg
35.000
2
Plastik Pengemas
-
Rol
1 Rol
3.000
3
Tepung Teligu
Segitiga Biru
Kg
1,5 Kg
10.500
4
Tepung Tapioka
Raus Brend
Kg
1 Kg
6.500
5
Gula Halus
-
Kg
3 Ons
3.500
6
Penyedap Rasa
Roiko
Buah / Saset
3 Bungkus
1.500
7
Minyak Goreng
Bimoli
Kg
2 Kg
20.000
8
Cabe Bubuk
-
Gram
0,5 Ons
3.000
9
Garam
NG
Gram
50 Gram
200
10
Bawang Putih
-
Kg
1/4 Kg
4.000
11
Telur
-
Kg
1/4 Kg
3.000

IV.     FASILITAS PERALATAN
No.
NAMA ALAT
SPESIFIKASI
SATUAN
JUMLAH
PEMILIK
1
Wajan
Anti Gores
Buah
1
Sendiri
2
Sutil
Almunium
Buah
1
Sendiri
3
Serok
Almunium
Buah
1
Sendiri
4
Ember
Anti Pecah
Buah
1
Sendiri
5
Kompor Gas
-
Buah
1
Sendiri
6
LPJ
Tabung
Buah
1
Beli pertamina

V.       PROSES PRODUKSI (SISTEM KERJA)
Ø      Kacang tanah dibersihkan terlebih dahulu.
Ø      Aduk telur, gula, penyedap rasa dan bumbu sampai kental.
Ø      Kemudian kacang dituangi adonan tadi sedikit demi sedikit setelah itu dicampur dengan tepung teligu + tepung tapioka sampai 3x pencampuran supaya tepungnya agak tebal.
Ø      Kemudian didiamkan selama 2 jam agar kadar airnya berkurang.
Ø      Setelah itu baru digoreng dalam minyak yang panas.
Ø      Setelah dingin siap untuk dikemas.





RENCANA ANGGARAN
I.               BIAYA BAHAN
No.
NAMA BAHAN
SPESIFIKASI
SATUAN
JUMLAH
HARGA
1
Kacang Tanah
-
Kg
2,5 Kg
35.000
2
Plastik Pengemas
-
Rol
1 Rol
3.000
3
Tepung Teligu
Segitiga Biru
Kg
1,5 Kg
10.500
4
Tepung Tapioka
Raus Brend
Kg
1 Kg
6.500
5
Gula Halus
-
Kg
3 Ons
3.500
6
Penyedap Rasa
Roiko
Buah / Saset
3 Bungkus
1.500
7
Minyak Goreng
Bimoli
Kg
2 Kg
20.000
8
Cabe Bubuk
-
Gram
0,5 Ons
3.000
9
Garam
NG
Gram
50 Gram
200
10
Bawang Putih
-
Kg
1/4 Kg
4.000
11
Telur
-
Kg
1/4 Kg
3.000
Jumlah Biaya Bahan
Rp.90.200

II.            BIAYA TENAGA KERJA
1 Orang tenaga kerja                                                                               Rp.10.000
III.          BIAYA LAIN-LAIN
Gas LPJ                                                                                                   Rp.13.000
Jumlah buaya                                                                                          Rp.113.200
Biaya produksi perbungkus :
                                                113.200 : 50 = Rp.2.264
Keuntungan yang diingankan
Perbungkus                                                  = Rp.246
Harga jual perbungkus                                 = Rp.2.500
Laba untuk 50 bungkus246 X 50      = Rp.12.300
Laba perhari   
                                                      246 X 50      = Rp.12.300
Laba perminggu 12.300 X 7   = Rp.86.100
Laba perbulan86.100 X 4   = Rp.344.4
VI.              SASARAN PASAR
Ä     Kantin Sekolahan
Ä     Toko-toko Kecil
Ä     Sualayan
Ä     Tukang Sayur
VII.           JADUAL PELAKSANAAN
No.
KEGIATAN
JANUARI
FEBRUARI
MARET
1
Rancangan Kerja Penyusunan Proposal
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
2
Gambar Kerja
3
Proses Produksi
4
Laporan
5
Presentasi
6
Ujian Sekolah dan Nasional












VIII.        PENUTUP
Kesimpulan dari uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU” mempunyai rasa yang enak dan pembuatannya sangat sederhana mempunyai kandungan nilai gizi yang tinggi dan kaya akan kesehatan manusia.
Bagi anda yang ingin merasakan betapa nikmat dan lezatnya “KACANG TELUR PEDAS MANIS YAKINIKU” ini anda akan bisa membuatnya sendiri dengan membaca proposal ini.
Demikian proposal ini saya buat apabila ada yang kurang dalam kata-kata mohon kritik dan sarannya dan mohon maaf sebesar-besarnya akhir kata Wassalamu'alaikum Wr. Wb.